UPAYA MEMBANGUN GOOD CORPORATE CULTURE DI JASA MARGA

Written by Heri Susanto on Rabu, Januari 16, 2019

UPAYA MEMBANGUN GOOD CORPORATE CULTURE
UNTUK MENDUKUNG JASA MARGA
MENJADI LEADER DALAM INDUSTRI JALAN TOL
UNTUK DOMESTIK DAN TATARAN REGIONAL ASEAN


Oleh : Heri Susanto/ 05258

PENDAHULUAN
Mencermati Usia Perusahaan yang telah berkiprah selama 41 (Empat Puluh satu) tahun dalam industri jalan tol dan perkembangan Jasa Marga sebagai Perusahaan Publik. Hal ini pada akhirnya mejadikan Jasa Marga menjadi Perusahaan yang terbuka dan semakin profesional, dimana dituntut kinerja karyawan yang lebih professional dan mengharuskan Organisasi Jasa Marga membangun Good Corporate Culture (GCC) secara konsisten disamping penerapan Good Corporate Governance (GCG) di Jasa Marga.

Dalam mengamati Jasa Marga sejak tahun 2007 menjadi Perusahaan Terbuka mempunyai makna sebagai sarana bagi kita semua untuk melakukan telaah secara kritis terhadap perjalanan organisasi dan menjadikannya momentum bagi kita semua untuk menata organisasi ini menjadi lebih baik, serta meningkatkan pemahaman kita bersama terhadap makna dari hubungan kerja yang sinergi.

Dari sisi Organisasi, kita perlu meningkatkan lagi kinerja Organisasi Jasa Marga agar kita dapat lebih mengupayakan kinerja seluruh sumber daya manusia yang saling mendukung secara utuh dan tidak saling melemahkan. Hal ini dapat kita capai dengan meningkatkan pemahaman kita semua terhadap fungsi dan peran dari tiap-tiap bagian dari Organisasi Jasa Marga sehingga terwujud tatanan kerja yang lebih teratur dan terarah dalam semangat peningkatan kinerja yang seiring dan sejalan.

Untuk memberikan pemaparan yang bermakna sangat penting dalam momentum bersejarah bagi Jasa Marga menuju Jasa Marga yang kompetitif maka saya pada kesempatan ini menyajikan artikel yang berjudul Upaya membangun Good Corporate Culture untuk mendukung Jasa Marga menjadi Leader dalam industri jalan tol untuk Domestik dan tataran Regional ASEAN.

Tujuan dari artikel ini untuk memberikan urun rembug dan cakrawala pemikiran kita bersama dalam mengantisipasi Jasa Marga menjadi leader industri jalan tol untuk domestik dan tataran regional ASEAN.

Kita perlu meningkatkan pemahaman terhadap fungsi dan peran Jasa Marga sebagai Perusahaan terbuka yang menguasai Industri jalan tol domestic dan tataran regional ASEAN agar kita dapat menyiapkan langkah-langkah antisipasi terhadap perubahan-perubahan yang akan terjadi. Semoga Artikel ini bermanfaat bagi kita semua

PENGERTIAN GOOD CORPORATE CULTURE (GCC)

Good Corporate Culture (GCC) atau yang lebih populer dikenal sebagai Budaya korporasi/budaya Jasa Marga yaitu berkenaan dengan pengembangan Jasa Marga yang “berbudaya”, dan kemudian “berbudaya kuat”.
Untuk menjadi Perusahaan kelas dunia, tidak cukup hanya dengan berbekal manajemen profesional, melainkan budaya yang unggul. Banyak contoh Perusahaan kelas dunia yang menunjukkan keunggulannya karena di samping kepiawaian manajemennya juga menjaga budaya Perusahaannya secara konsisten.

Dalam budaya korporat yang kuat, hampir semua manajer menganut seperangkat nilai-nilai dan metode menjalankan bisnis yang relatif konsisten.
Atas dasar keadaan tersebut, para karyawan dapat mengadopsi nilai-nilai ini dengan sangat cepat. Apabila kesadaran budaya telah sangat mendalam, dapat terjadi seorang eksekutif akan dikoreksi oleh bawahannya, selain juga oleh atasannya, jika dia melanggar norma-norma organisasi.

Perusahaan dengan budaya yang kuat biasanya dinilai dan dirasakan oleh pihak lain yang telah memiliki gaya tertentu, misalnya “cara melakukan segala sesuatu” pada Procter & Gamble , Toyota, Samsung, Johnson & Johnson. Mereka sering menjadikan nilai-nilai yang dianut bersama itu semacam kredo atau pernyataan misi dan secara serius mendorong para manajer mereka untuk mengikuti pernyataan tersebut. Selanjutnya, gaya dan nilai-nilai suatu budaya yang kuat cenderung tidak banyak berubah walaupun ada pergantian CEO karena akar-akarnya sudah mendalam.

Good Corporate Culture (GCC) merupakan sesuatu yang berbanding lurus dengan Good Organization Culture maka jika kita membangun Good Corporate Culture (GCC) di Jasa Marga berarti kita juga harus membangun Good Organization Culture. Keberhasilan membangun Good Organization Culture (Budaya Jasa Marga) merupakan kunci keberhasilan Jasa Marga untuk survive di era Globalisasi dan penerapan Good Corporate Governance (GCG) serta Clean Governance pada semua lini di Jasa Marga kita

I. MEMBANGUN BUDAYA JASA MARGA (Good Organization Culture)

Setiap organisasi, sebagai lazimnya institusi, mempunyai nilai budaya yang baik di dalamnya. Apabila nilai-nilai budaya ini dibiarkan tenggelam, dan dikalahkan oleh nilai-nilai yang negatif maka proses transformasi sebesar apa pun akan mengalami kendala yang sangat besar.

Jasa Marga memerlukan Budaya Jasa Marga  (Organization Culture) untuk menjadikannya kuat dalam menghadapi perubahan dan mendukung setiap upaya transformasional.

Pada saat ini Jasa Marga sudah mendeklarasikan Tata Nilai Perusahana JSMR (Jujur, Sigap, Mumpuni, Respek).

Pengertian dari membangun Budaya Jasa Marga adalah upaya menggabungkan nilai-nilai kehidupan bersama antara seluruh karyawan Jasa Marga kemudian disemaikan ke dalam setiap sel organisasi Jasa Marga yang harus muncul dalam bentuk perilaku formal dan informal setiap karyawannya.

Budaya Jasa Marga hendaknya secara konsisten dan Persisten mendorong seluruh karyawan Jasa Marga mengimplementasikan nilai-nilai :


1. Profesionalisme

2. Spirit

3. Proaktif

4. Team Work


1. Profesionalisme

Profesionalisme adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh karyawan yang memenuhi syarat sebagai berikut :

Science Competence : mengharuskan karyawan untuk menguasai ilmu yang akan menjadi titik berpijak kegiatannya.

Technical Competence : menuntut karyawan untuk mampu melaksanakan ilmu yang dikuasai.

Experience Competence : menuntut karyawan untuk memecahkan problema yang dihadapi karena pengalamannya yang luas.

Dedicatif dan Consistent : Kemampuan karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya sampai dengan berhasil secara tekun, konsisten dan ikhlas. Independence : suatu sikap untuk bertindak secara obyektif disertai Integritas yang tinggi.

2. Spirit

Spirit atau semangat adalah perilaku yang melekat pada setiap tindakan yang akan diambil setiap karyawan Jasa Marga. Tanpa adanya semangat setiap upaya untuk membangun Budaya Jasa Marga tak akan berhasil.

3. Proaktif

Bersikap proaktif adalah lebih dari sekedar mengambil inisiatif. Bersikap proaktif artinya bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri (di masa lalu, di masa sekarang, maupun di masa yang akan datang), dan membuat pilihan-pilihan berdasarkan prinsip-prinsip serta nilai-nilai ketimbang pada suasana hati atau keadaan. (Stephen Covey)

Karyawan Jasa Marga yang proaktif adalah pelaku-pelaku perubahan dan memilih untuk tidak menjadi korban, untuk tidak bersikap reaktif, untuk tidak menyalahkan karyawan lain. Karyawan Jasa Marga melakukan ini dengan mengembangkan serta menggunakan keempat karunia manusia yang unik – kesadaran diri, hati nurani, daya imajinasi, dan kehendak bebas - dan menggunakan pendekatan dari dalam ke luar untuk menciptakan perubahan. Karyawan Jasa Marga bertekad menjadi daya pendorong kreatif dalam hidup mereka sendiri, yang adalah keputusan yang paling mendasar yang bisa diambil setiap karyawan.

Alangkah baiknya Jasa Marga mengembangkan budaya proaktif kepada karyawannya secara konsisten dan Persisten dengan menggunakan kaidah-kaidah yang berakronim SMILE.

Kaidah-kaidah ini diusulkan untuk menjadi bagian dari Kredo Perusahaan yang selama ini dideklarasikan JSMR (Jujur, Sigap, Mumpuni, Respek)

Adapun Kredo Perusahaan dengan akronim SMILE yang mempunyai makna sebagai berikut : Satisfaction, Moral, Integrity, Leadership, Entrepreneurship,
Satisfaction merupakan kredo simbol pelayanan yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan jalan tol dengan memberikan keamanan (safety), kenyamanan (comfortability) dan kelancaran,

Moral merupakan komitmen perusahaan untuk membangun karakter Jasa Marga yang menjunjung tinggi aspek kejujuran, kebenaran.dalam menjalankan bisnisnya

Integrity merupakan aspek kepribadian Jasa Marga yang utama, yang mengutamakan kemuliaan di dalam segala aspek pencapaian tujuannya.

Leadership adalah kredo bahwa Jasa Marga adalah pemimpin dalam industrinya

Entrepreneurship adalah kredo bahwa bisnis harus dilakukan berdasarkan semangat wirausaha yang mandiri, tangguh dan tanggap terhadap tuntutan perubahan.

Sehingga Kredo Perusahaan berbunyi sebagai berikut;

READY TO SERVE WITH SMILE

Akumulasi dari Budaya Jasa Marga di Jasa Marga diharapkan dapat menghasilkan sebuah lingkungan publik yang berbudaya. Pada saat ini Jasa Marga memiliki jumlah Karyawan Induk dan Anak Perusahaan baik tetap dan tidak tetap 9.080 (Annual Report 2017), artinya ada potensi bagi Jasa Marga untuk membangun budaya pada 9.080 warga Indonesia. Jumlah yang cukup signifikan untuk menciptakan critical mass dalam membangun Indonesia yang berbudaya dan mengelola total asset Jasa Marga untuk tumbuh dan berkembang sebesar Rp. 79.193.,Miliar (Annual Report 2017) bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

5. Team WorkTeam Work atau kerjasama adalah suatu bentuk komitmen bersama antar karyawan Jasa Marga dalam membangun Budaya Perusahaan. Bentuk kerjasama yang handal adalah dengan tercerminnya perilaku transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban dan kewajaran dalam setiap kebijakan yang diputuskan oleh Manajemen Jasa Marga.

II. KEKUATAN BUDAYA PERUSAHAAN DI JASA MARGA

Jasa Marga harus memiliki budaya sendiri yang sifatnya spesifik karena pada umumnya setiap organisasi mempunyai kepribadian yang khas. Budaya dapat sangat stabil sepanjang waktu, tetapi budaya juga tidak pernah statis.
Perubahan peran Jasa Marga menjadi operator murni jalan tol yang diamanatkan UU No: 38/2004, mendorong Jasa Marga untuk mengevaluasi kembali beberapa nilai-nilai atau perangkat praktis. Tantangan-tantangan baru dapat mengakibatkan Jasa Marga menciptakan cara-cara baru untuk melakukan segala sesuatu agar dapat bertahan dan unggul dalam persaingan yang makin kompetitif.

Budaya Jasa Marga adalah perekat bagi setiap karyawan di dalam Perusahaan. Tanpa keberadaan Budaya Perusahaan, maka Jasa Marga akan mengalami proses pertumbuhan dan pemekaran tetapi tanpa diimbangi oleh  integrasi  dan reintegrasi. Oleh karena itu, tantangan dari setiap karyawan Jasa Marga adalah 
pertama memahami arti penting keberadaan Budaya Jasa Marga; 
kedua, membangun Budaya Jasa Marga dengan metode yang dapat diterima secara keilmuan, kemanusiaan dan konteks keorganisasian; dan 
ketiga, senantiasa memelihara dan memperkuat budaya Jasa Marga.

Logika tentang cara kekuatan budaya berhubungan dengan kinerja meliputi tiga gagasan (Kotler dan Hessket, 1992), yaitu : 
Pertama, dalam sebuah organisasi dengan budaya yang kuat, karyawannya cenderung berbaris mengikuti penabuh genderang yang sama. 
Kedua, budaya yang kuat sering dikatakan membantu kinerja bisnis karena menciptakan suatu tingkatan yang luar biasa dalam diri para karyawannya. 
Ketiga, budaya yang kuat membantu kinerja karena memberikan struktur dan kontrol yang dibutuhkan tanpa harus bersandar pada birokrasi formal yang kaku dan yang dapat menekan tumbuhnya motivasi dan inovasi.

Tumbuhnya budaya yang kuat dalam Jasa Marga ditandai dengan : 
Pertama, perilaku para karyawannya dibatasi oleh kesepakatan bersama dan bukan karena perintah atau karena ketentuan-ketentuan formal. 
Kedua, dampak budaya yang kuat terhadap perilaku para karyawannya berdampak besar ditandai dengan menurunnya keinginan karyawannya yang pindah berkarya di organisasi lain. 
Ketiga, budaya yang kuat berarti akan makin banyak karyawan organisasi yang menerima keterikatannya pada norma-norma dan sistem nilai-nilai organisasional yang berlaku, dan makin meningkatnya komitmen karyawannya terhadap keberhasilan penerapan norma-norma dan sistem nilai tersebut.

III. FUNGSI BUDAYA PERUSAHAAN DI JASA MARGA

Budaya Perusahaan di Jasa Marga yang efektif tercermin pada kepercayaan, keterbukaan komunikasi, kepemimpinan yang mendapat masukan (considerate) dan didukung oleh bawahan (supportive), pemecahan masalah oleh kelompok, kemandirian kerja, dan pertukaran informasi.

Budaya Perusahaan yang kuat mempunyai empat fungsi dasar, yaitu : 
Pertama, perasaan identitas dan menambah komitmen organisasi. 
Kedua, alat pengorganisasian karyawan 
Ketiga, menguatkan nilai-nilai dalam organisasi. Keempat, mekanisme kontrol atas perilaku
Budaya yang kuat meletakkan kepercayaan-kepercayaan tingkah laku, dan cara melakukan sesuatu, tanpa perlu dipertanyakan lagi. Oleh karena berakar dalam tradisi, budaya mencerminkan apa yang dilakukan, dan bukan apa yang akan berlaku. Dengan demikian, fungsi dari Budaya Perusahaan di Jasa Marga adalah sebagai perekat sosial dalam mempersatukan karyawan-karyawan dalam mencapai tujuan organisasi berupa ketentuan-ketentuan atau nilai-nilai yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para karyawan. Hal tersebut dapat berfungsi pula sebagai kontrol atas perilaku para karyawannya.

Hal yang paling penting dalam pelaksanaan Good Corporate Governance adalah spirit dan konsistensi untuk melakukannya, bukan hanya memenuhi kata-kata yang ada dalam peraturan. Sebaiknya pula Jasa Marga membangun Good Corporate Culture (GCC) dan Good Organization Culture Jasa Marga (Budaya Perusahaan) secara konsisten disamping penerapan Good Corporate Governance (GCG) di Jasa Marga.

Bisnis pengelolaan jalan tol bisa membuat karyawan cepat lelah, maka Budaya Perusahaan di Jasa Marga yang kuat dapat membantu para karyawannya membangun harga diri mereka dan rasa memiliki dalam komunitas yang lebih besar. Itu baik untuk karyawan dan baik untuk Jasa Marga, dan percayalah, ini juga baik untuk kita semua. *****HS 05258

Insya Allah…bermanfaat untuk kita semua.






Selengkapnya...

KAMPANYE PILPRES 2018 - 2019

Written by Heri Susanto on Kamis, Januari 03, 2019

MENGAMATI KAMPANYE PILPRES 2018 - 2019
ALA CITIZEN JOURNALISM DI SOSIAL MEDIA

Oleh : Heri Susanto

Mengamati untuk Memahami
Mengamati seseorang yang menulis “notes/catatannya” tentang "Kampanye Pilpres 2018 - 2019 ala Sosial Media “Sosmed" di Twitter, Facebook, Whatsapp, Blog dan lain – lain. Bisa jadi catatannya berisi tentang pujian untuk “Jagoannya” atau makian untuk “Lawannya”.Bagaimana ia menulis , bukan bagaimana kita pikir seharusnya ia menulis catatanya.  Bagi seorang pemula, anggaplah kita sebagai orang yang sedang berkenalan dengan seseorang yang berbahasa asing.Bagaimana kita mulai berkomunikasi dengan orang yang tidak berkomunikasi dalam bahasa kita ? 
Kita amati.....! 
Dan kita amati dengan kepala dingin......! 
Dan bukan menghakimi “Tulisannya tidak rasional”, 
“Seharusnya begini....!”,  “Seharusnya begitu....!”.
Perlahan-lahan, sebagian dari apa yang ingin disampaikannya akan kita pahami. Bagaimanapun cara kita memahaminya, tidak menjadi soal.

Menulis adalah Tanggung Jawab Intelektual
Meskipun demikian menulis adalah tanggung jawab intelektual.  Seorang bijak berkata, “ketika penulis melepaskan sebuah karya dan ketika karya itu dipublikasi maka penulisnya mati”, artinya seorang penulis harus siap karyanya dikritik, disukai juga dibenci.
Proses kritikisasi ini justru akan mematangkan cara kita menghadapi dan mengatasi segala bentuk tanggapan tanpa harus kehilangan prinsip dan ciri tulisan kita. Di sisi lain kritikus juga diharapkan menyampaikan kritikannya atau hal yang tidak disukainya dengan beretika dan santun. Ingatlah, dari inner  yang baik akan lahir kata - kata baik, tapi dari inner yang buruk akan selalu keluar kata -kata buruk.
Sebagai penulis pemula yang sedang belajar, pengalaman dikritik oleh berbagai kalangan dengan berbagai bentuk kritik mulai dari yang santun, membangun, serius, bercanda, tidak santun sampai yang sangat kasar pernah penulis alami. Pernah ada suatu masa dimana kritik - kritik kasar membuat penulis sangat down, tapi ternyata ini "proses pembentukan" paling mujarab.

Formula untuk Memahami
Kalau yang menyukai dan mengkritik secara membangun tulisan kita jauh lebih banyak dari pada yg tidak menyukai/mengritk kasar, “just ignore it or send him/her a message” tanyakan dimana kelemahan tulisan kita. Kritikus yang baik dan serius akan menjawab pertanyaan kita dengan memberikan penjelasan atau bahkan akan membuat “noted khusus” untuk itu dengan men'tag’ kita. Tapi apabila tak dijawab, berarti si kritikus punya masalah pribadi dengan kita atau dengan dirinya sendiri (iri, cemburu krn tulisan kita lebih bagus dll atau dia memang pengamat “jadi – jadian” yang memang hanya suka berkata pedas tanpa solusi, ini ciri orang yg kurang matang emosionalnya.
Bila orang yang sama masih saja melakukan hal yg sama sedangkan topik atau tema sudah berpindah dalam jangka waktu yg cukup panjang, asumsinya adalah ketika saran/pendapat tidak disampaikan dengan semestinya, maka dulu penyampainya mungkin "memakan" hal yang sama atau gagal mengolah dirinya utk belajar menghargai pendapat/karya orang lain. Ini merupakan pendapat yang tidak keliru dan sangat baik. Disisi lain, tatkala kita mulai menulis di Sosmed, apalagi mulai 'tag' orang lain untuk memberi komentar atas 'Catatan' kita, tentunya kita sudah tahu bahwa tulisan kita akan dicermati dan dihakimi selama tidak melanggar hukum, sah - sah saja. Dengan demikian siapa pun bisa belajar banyak, kita jadi tahu mana yang 'observant' dan mana yang 'judgemental'. Justru ini yang memberi 'warna' kan ? Justru inilah 'kebebasan berekspresi'. Bayangkan kalau semua berkepala dingin dan rasional,tidak ekspresif, betapa menjemukan sosmed ini.

Catatan di Sosial Media adalah Ruang Publik
Catatan di sosmed adalah ruang publik saat kita memilih "who can see this note" dengan "everyone, networks atau friends", bila memang tulisan kita tidak untuk ditujukan bagi semua orang ada piliha dimana note/catatan kita hanya bisa dibaca oleh beberapa orang saja. Citizen journalism sekarang merupakan salah satu alat “Kampanye Pilpres 2018 - 2019” yang sangat efektif dan justru digandrungi oleh (khususnya) penikmat situs jaringan sosial yang sebagian besar penggunanya berpendidikan menengah ke atas. Jadi adalah sangat mungkin tulisan dan pemikiran kita menuai berbagai opini. Bahkan penulis -  penulis besar ,baik yang masih hidup maupun hanya tinggal karyanya saja hingga kini masih menuai kritik pedas baik dari cara menulis dan pemikirannya. Jadi sebagai seorang penikmat tulisan di media Sosmed, penulis ingin membesarkan hati kita semua bahwa memang proses berkembang itu juga adalah proses menikmat "makanan" yg makin lama makin tak lunak.

Inilah dunia citizen journalism,  Disinilah kebebasan untuk berekspresi dan menyatakan pendapat sangatlah di hargai.****HS05258
Selengkapnya...